Turun ke Divisi 3 Spanyol Super Depor Tak Lagi Super

Posted on

Turun ke Divisi 3 Spanyol Super Depor Tak Lagi Super – Kabar cukup menyedihkan datang dari sepak bola Negeri Matador. Klub legendaris sekaligus mantan juara La Liga musim 1999/2000, Real Club Deportivo de La Coruna secara matematis baru saja terdegradasi ke Divisi 3 Spanyol. Bermain di Segunda Divison atau LaLiga 2 sejak musim lalu, klub yang memiliki julukan Super Depor ini tak kuat mempertahankan diri di kompetisi Divisi 2 Spanyol itu. Klub yang bermarkas di Estadio Riazor itu hanya menempati peringkat 20 klasemen dari 22 kontestan.

Turun ke Divisi 3 Spanyol Super Depor Tak Lagi Super

Deportivo La Coruna secara matematis terdegradasi. Mereka hanya mampu mengumpulkan 48 poin dari 41 laga, hasil 11 kemenangan, 15 hasil imbang, dan 15 kali menelan kekalahan. Jika pun menang di laga terakhir, poin maksimal yang bisa dikumpulkan Super Depor hanya 51 poin. Sayangnya, poin itu tak mampu menggusur Ponferradina dari posisi 18 klasemen, batas aman dari zona degradasi. Walau jika nantinya memiliki poin sama dengan Ponferradina, Deportivo memiliki selisih gol minus 18 sementara Ponferradina memiliki selisih gol minus 5.

Jika ingin bertahan di Segunda Division, maka di laga pekan terakhir Deportivo harus menang minimal dengan selisih 13 gol melawan Fuenlabrada. Sebuah hasil nyaris mustahil, maka layak bila Deportivo La Coruna resmi dinyatakan terdegradasi ke Divisi 3. Ada 2 masalah utama. Yaitu, Super Depor suka bergonta-ganti pelatih. Ironisnya, setiap pelatih yang ditunjuk tak mampu membuat mantan juara La Liga ini menampilkan permainan terbaiknya. Gonta-ganti pelatih inilah yang membuat Deportivo selalu tampil inkonsisten. Ya, klub yang dulunya terkenal dengan duet Roy Makaay dan Diego Tristan ini tampil inkonsisten dengan penampilan buruknya.

Deportivo dilatih 3 pelatih berbeda musim ini

Di awal musim, Juan Antonio Anquela jadi pelatihnya. Anquela hanya mampu bertahan 10 pekan saja setelah menorehkan tinta hitam. Di bawah asuhannya, Deportivo meraih kemenangan di pekan pertama, namun setelahnya menelan 4 kekalahan dan 5 hasil imbang. Terjerembap di dasar klasemen, manajemen Deportivo menunjuk Luis Csar Sampedro sebagai juru taktik anyar. Nahas, Super Depor justru dibawanya makin suram. Super Depor menelan 6 kekalahan dan 4 hasil imbang sebelum meraih kemenangan kedua di liga pada akhir Desember 2019.

Dengan meninggalkan catatan kelam, Deportivo memecat Luis Cesar dan menunjuk Fernando Vazquez sebagai pelatih untuk paruh kedua Segunda Division. Membaik, 6 kemenangan beruntun berhasil diraih Super Depor di bawah pelatih baru. Perlahan, mereka keluar dari zona degradasi. Sayangnya, seperti klub-klub yang terdegradasi musim ini, pandemi COVID-19 jadi hambatan. Selepas kompetisi dilanjutkan kembali pascavakum, 3 hasil imbang di 3 laga pertama dan 3 kekalahan beruntun di 3 laga terkahir membuat Deportivo kembali masuk zona degradasi dan akhirnya secara matematis mereka terdegradasi.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah kondisi terkini Deportivo sebelum dinyatakan turun kasta. Laga pekan terakhir mereka ditunda otoritas liga dan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) setelah beberapa pemainnya dinyatakan positif COVID-19. Langkah hukum coba ditempuh pihak klub yang merasa dirugikan, namun bisa dilihat bersama bahwa walau mereka menang pun, hasil akhirnya tetap sama, degradasi.

Nasib lebih buruk harus siap dirasakan Deportivo La Coruna. Tak peduli klub dari divisi 1 atau 2, mereka yang terdegradasi harus siap-siap merugi dan ditinggal pergi beberapa pemain andalannya. Bukankah sudah hukum alamnya begitu di dunia sepak bola modern

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *