Financial Fair Play Regulasi yang Menjegal City

Posted on

Financial Fair Play Regulasi yang Menjegal City – Siapa yang tidak ingat gol menit terakhir Sergio Kun Aguero di Etihad melawan QPR pada 13 Mei 2012. Gol yang banyak digadang-gadang sebagai pertanda era baru sepak bola Inggris, dengan Machester Biru sebagai raksasa. Namun, pada artikel ini saya tidak akan berbicara mengenai gol yang bakal selalu dikenag oleh. fans City puluhan tahun ke depan.

Financial Fair Play Regulasi yang Menjegal City

Financial Fair Play Regulasi yang Menjegal City

Melainkan, sebuah kemenangan penting City yang mungkin akan lebih dikenang oleh fans rival daripada City. Yup kemenangan telak City terhadap UEFA di Court of Arbitration for Sport (CAS). Yang menurut saya bahkan lebih penting daripada gol Aguero. Kasus yang menjegal The Cityzen adalah perkara Financial Fairplay, sebelum membahas bagaimana City melanggarnya. Tentu menarik untuk membahas latar belakang sejarah dan substansi dari regulasi tersebut.

Banyaknya tim yang kolaps karena managemen keuangan yang kacau, dan banyaknya pemilik tim yang menyuntikan. Dana seperti pesepeda menyuntik doping, itulah realita industri sepak bola pada era 2000an mulai mengkhawatirkan banyak pihak. Banyak tim besar tidak beruntung yang kolaps karena utang dan pengeluaran yang sembarangan sebut saja Parma dan Portsmouth. Tim besar Italia dan Inggris yang bahkan beberapa tahun sebelumnya sempat menyabet gelar domestik.

Cerita yang lebih horor mungkin bagaimana raksasa Skotlandia yang juga pemegang titel terbanyak, Glasgow Rangers, bisa kolaps perkara duit. Sementara, kasus tim yang didoping uang oleh sang pemilik bukan perkara Chelsea, PSG, dan City saja. Bahkan tim yang kuat secara tradisional juga memiliki tendensi yang sama, selama medio 2000-an. AC Milan yang sedang berada di era keemasan lebih bertindak seperti “mainan”daripada “perusahaan” Silvio Berlusconi.

Bagaimana tidak, pada era keemasannya saja Milan tetap mencetak neraca defisit akibat kombinasi tidak punya stadion, reklutmen pemain yang boros, dan manajemen yang berantakan. Tentu permasalahan baru mencuat ketika uang pergi bersama dengan angkat kakinya Berlusconi. Namun kultur manajemen yang buruk masih melekat. Kombinasi perubahan regulasi, sugar daddy yang hilang, reklutmen yang masih mubazir. Dan manajemen yang masih bermasalah membuat Milan hanya jadi tim medioker Italia, yang perlu banyak belajar untuk bisa kembali berjaya.

Bayakngkan Saja Sebuah Tim hitoris Skotlandia yang selalu memenuhi stadionnya

Kalau membahas Rangers tentu ceritanya lebih buruk lagi, dan memiliki rekor gelar domestik terbanyak bisa pailit dan gagal bayar pajak. Pemilik yang teralu ambisius, Davis Murray, memang berhasil membuat Rangers menjadi kekuatan dominan, dan semakin meninggalkan rivalnya Celtic.

Namun, permasalahannya kejayaan itu dibangun diatas pengeluaran yang tidak berkelanjutan, penghindaran pajak, dan utang bayangkan sebuah klub Skotlandia punya utang sampai 82 juta Euro di tahun 2003, dan mencatatkan kerugian rugi sampai 29 juta Euro. Ditambah lagi dengan skandal penghindaran pajak, Rangers semakin kesulitan mencari pemilik baru untuk mendapatkan dana segar. Ketika pemilik baru sudah masuk, semuanya terlambat, kombinasi tunggakan pajak dan utang pada akhirnya mengubur sejarah 140 tahun Glasgow Rangers.

Pun Rangers sudah dihidupkan kembali, namun trauma harus memulai dari divisi tiga tentu masih sangat berbekas pada suporter yang gemar membawa bendera Union Jack ke stadion. Selain berpotensi memiliki dampak buruk bagi tim, dapat dikatakan tren doping uang oleh pemiliki dituding membuat liga menjadi tidak seru dan banyak prestasi instan.

Selain itu, tim juga wajib membatasi neraca finansialnya dengan tidak dapat defisit lebih dari 5 juta Euro per tahun, kecuali jika “ditombokin” (harus langsung dari pemilik, tidak boleh ngutang) pemiliknya secara langsung sampai angka tertentu. Secara akumulatif, dalam tiga tahun sebuah tim maksimal defisit 30 juta Euro. Sementara sanksinya dapat berupa peringatan, sampai diskualifikasi atau pencabutan gelar juara.

Sederhananya, FFP berupaya menciptakan pengelolaan finansial tim yang berkelanjutan untuk mencegah tim sepak bola bangkrut. Selain itu, FFP juga berupaya “meminimalisasi” tren yang terjadi pada akhir medio 2000-an dimana para pemilik tim mendoping timnya dengan dukungan finansial yang luar biasa sehingga membuat sepak bola seperti permainan monopoli yang dimainkan para anak sultan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *