Diam diam Juventus Siapkan Pirlo Menapaki Jejak Sukses Zidane

Posted on

Diam diam Juventus Siapkan Pirlo Menapaki Jejak Sukses Zidane – Ada fakta menarik dari Liga Serie A Italia musim 2019/20 yang tinggal menyisakan lima pertandingan. Bahwa, beberapa tim kontestan Liga Italia musim ini, ternyata dilatih pelatih muda yang baru berusia 40 tahunan. Nama mereka terdengar akrab di telinga pecinta Liga Italia. Sebab, mereka dulunya merupakan pemain terkenal di Liga Italia. Kini, mereka mencoba ‘peruntungan’ dengan menjadi pelatih.

Diam diam Juventus Siapkan Pirlo Menapaki Jejak Sukses Zidane

Diam diam Juventus Siapkan Pirlo Menapaki Jejak Sukses Zidane

Ada Gennaro Gattuso di Napoli, Simone Inzaghi di Lazio, Fabio Liverani di Lecce, Luigi Di Biagio di SPAL, Roberto De Zerbi di Sassuolo, Ivan Juric di Hellas Verona, dan Diego Lopez di Brescia. Boleh juga ditambahkan Antonio Conte (Inter Milan) yang tahun ini berusia 50 tahun. Para pelatih–yang termasuk muda untuk ukuran pelatih–yang dulunya mantan pemain di klub Serie A itu mencoba bersaing dengan pelatih-pelatih senior. Sebut saja Maurizio Sarri (61 tahun/Juventus), Gian Piero Gasperini (62 tahun/Atalanta), dan Claudio Ranieri (Sampdoria/68 tahun) yang merupakan pelatih paling senior di Liga Italia musim ini.

Ada yang bagus dalam artian tim yang dipimpinnya kini berada di peringkat bagus di klasemen Liga Italia. Namun, ada pula yang babak belur. Simone Inzaghi, Gattuso, Roberto de Zerbi, dan Ivan Juric termasuk bagus. Hingga pekan ke-33, tim yang mereka latih kini ada di 10 besar. Simone Inzaghi malah sempat membawa Lazio bersaing ketat dengan Juventus dalam perburuan gelar sebelum ‘linglung’ sejak Liga Italia kembali diputar.

Sementara Luigi Di Biagio, Liverani, dan Diego Lopez babak belur. Tim yang mereka latih kini terancam terdegradasi ke Serie B karena masih ada di tiga peringkat terbawah. Tetapi memang, tidak ada jaminan, seorang mantan pemain yang dulunya terkenal ketika menjadi pemain, bakal sukses saat melatih. Sudah ada banyak contohnya, pemain terkenal yang gagal menjadi pelatih. Sebut saja Diego Maradona, hingga Thierry Henry.

Akan Ada Mantan Pemain Terkenal Yang juga sukses sebagai pelatih

Faktanya, hingga kini, dari sekian banyak pemain bintang di masanya yang “banting setir” menjadi pelatih, rasanya hanya Pep Guardiola dan Zinedine Zidane yang sukses. Usia Zidane dan Guardiola kini sama-sama 49 tahun. Artinya, mantan pemain yang kini melatih dan usianya di bawah 45 tahun, belum ada yang terbilang sukses besar.

Meski, bukan tidak mungkin, ke depannya. Nah, di Italia, salah satu yang paling menarik ditunggu adalah kiprah Andrea Pirlo sebagai pelatih. Benar. Berita terbaru, Pirlo yang pernah lama bermain di AC Milan lantas ‘menutup karier’ di Serie A bersama Juventus, mendapatkan lisensi kepelatihan pada 27 September 2018 lalu, sepakat melatih tim Juventus U-23 di musim depan.

Pirlo (41 tahun) akan menggantikan Fabio Pecchia. Melansir dari juvefc.com, Pirlo akan mengajak kawan dekatnya, Roberto Baronio untuk menjadi stafnya. Keduanya sudah bersahabat sejak membawa Timnas Italia U-21 juara Piala Eropa 2000. Sebenarnya, terlepas dari Pirlo memang pemain top, tetapi kabar itu sejatinya biasa. Toh, dia ‘hanya’ melatih tim U-23. Bila dalam situasi normal semisal Juventus mendominasi Liga Italia, Pirlo tidak akan mendapatkan pemberitaan spesial.

Media akan bersabar menunggu dan membiarkan dulu Pirlo ‘membuktikan dirinya’ bersama tim muda Juve. Toh, dia belum memperlihatkan sentuhan kepelatihannya seperti permainan cerdasnya ketika menjadi pemain. Namun, seiring penampilan labil Juventus bersama Sarri di penghujung musim ini, media-media Italia kini mulai menyuarakan kemungkinan Pirlo akan melatih Juventus di tahun-tahun mendatang. Malah, ada media yang menyebut Pirlo akan menggantikan Maurizio Sarri.

Pirlo melatih Juventus itu akan bagus untuk klub Setidaknya untuk branding klub

Kita tahu, Juventus kini sedang mengalami fase yang membuat jantung pendukungnya berdegup lebih kencang. Cemas. Betapa tidak, Juventus tidak mampu menang di tiga pertandingan terakhir. Sekali kalah dan dua kali imbang. Memang, Juve (77 poin) masih aman di puncak klasemen Liga Italia dengan unggul 6 poin dari peringkat 2 Inter Milan (71 poin). Namun, bila tidak segera move on, Juve bisa dalam masalah besar. Sebab, Serie A masih menyisakan 5 pertandingan. Masih ada 15 poin yang bisa diraih oleh tim-tim pesaing Juve.

Artinya, masih sangat mungkin Juve digeser Inter Milan ataupun Atalanta yang sedang ganas dan ada di peringkat 3 dengan 70 poin. Bila itu terjadi, ceritanya bisa ditebak. Tidak akan ada cinta lagi untuk Sarri. Dia bakal dipaksa keluar. Bilapun Juve mampu juara dan semisal Sarri tetap dipercaya melatih Juventus di musim depan, Pirlo masih berpeluang suatu saat tampil. Bukan tidak mungkin, bila Juventus bermasalah di tengah jalan dan Sarri dipecat, maka Pirlo yang akan ‘naik kelas’. Apalagi bila dia sukses bersama tim muda Juve.

Pendek kata, Pirlo memang diharapkan oleh manajemen klub Juventus dan juga disiapkan sebagai pelatih Juventus di tahun-tahun mendatang. Bayangkan, Juventus dilatih salah satu pemain paling cerdas yang pernah dimiliki Italia, pemenang Piala Dunia, pemenang Liga Champions, dan peraih gelar Scudetto yang merupakan curriculum vitaenya Pirlo, itu rasanya akan terdengar manis bagi pendukung Juve.

Namun, pendukung Juve tentunya tidak sekadar berharap Pirlo mengubah branding klub. Mereka pastinya berharap, Pirlo kelak bisa menapaki sukses seperti Guardiola yang juga mengawali karier sebagai pelatih Barcelona B. Mereka berharap, Pirlo bisa sukses seperti Zidane yang pada Jumat (17/7) kemarin berhasil membawa Real Madrid juara Liga Spanyol 2019/20 dan sebelumnya membawa klub ibu kota Spanyol itu meraih tiga trofi Liga Champions secara berurutan (2016, 2017, 2018).

Begitu juga Didier Deschamps yang membawa Timnas Prancis juara dunia

Pun, Zidane sebelum menjadi pelatih yang ‘panen gelar’ bersama Real Madrid, dia mengawalinya dengan menjadi asisten pelatih Carlo Ancelotti. Kombinasi Ancelotti-Zidane membawa Real juara Liga Champions 2014 yang mengakhiri penantian gelar mereka sejak tahun 2002. Mungkinkah Pirlo bisa mengikuti sukses Guardiola dan Zidane? Hanya waktu yang kelak menjawabnya. Tetapi, percaya atau tidak percaya, dalam dunia kepelatihan sepak bola, mantan pemain tengah yang semasa bermain dikenal cerdas, ternyata punya kemungkinan lebih besar untuk sukses dibanding mantan pemain di posisi lainnya.

Zidane dan Guardiola dulunya adalah pemain tengah. Ancelotti juga. Ah, mungkin itu hanya kebetulan. Tapi kok banyak contohnya. Tetapi memang, dengan dulu semasa bermain terbiasa mengatur tempo permainan dan menerjemahkan keinginan pelatih di lapangan, para mantan gelandang bisa jadi lebih punya kejelian ketika mereka melatih dibandingkan pemain yang bermain di posisi lainnya. Entahlah.

Jadi, para pendukung Juventus, silahkan bersabar menunggu kabar Andrea Pirlo kelak akan menjadi pelatih Si Nyoya Tua. Tapi yang jelas, cerita itu baru bermula musim depan, di tim mudanya Juve. Ah, saya pun tidak sabar menunggunya. Apalagi bila kelak beberapa tim top Eropa juga memanggil kembali pemain bintangnya untuk melatih klub mereka.

Setelah Frank Lampard melatih Chelsea, kelak Barcelona sepertinya akan memanggil Xavi Hernandez sebagai pelatih seperti isu selama ini. Dan Steven Gerrard juga kemungkinan melatih Liverpool setelah Jurgen Klopp mengisyaratkan hanya akan bertahan empat tahun ke depan. Ah, sepak bola bakal semakin menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *